Dampak Corona, Investasi China ke RI Kans Anjlok

92

MANGUNINEWS.COM, Jakarta – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan status darurat dunia atas wabah virus corona sebab sudah membunuh lebih dari 249 orang, 11.209 terjangkit, dan 15.238 dicurigai terjangkit.

Menanggapi hal tersebut, seperti ditulis merdeka.com, Sabtu (1/2/2020), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia pun tak memungkiri bila wabah ini tak juga dapat segera ditangani, bakal berdampak para penurunan realisasi investasi China ke Indonesia.

“Kalau kemudian 1 bulan 2 bulan ini wabah corona ini tidak mampu diselesaikan oleh internal atau pemerintah China, maka secara tidak langsung akan berdampak pada realisasi investasi dari China,” ujar Bahlil saat ditemui di Gedunf Balairung Universitas Indonesia, Depok.

Akan tetapi, sejauh ini menurut Bahlil belum terjadi perubahan terkait realisasi investasi China ke RI.

“Belum. Kalau sekarang realisasi investasi di bulan Januari 2020 masih stabil karena mereka (China) mengeksekusi kepada yang sudah eksisting (proyek) yang belum selesai mereka juga mau selesaikan,” sambungnya.

Untuk diketahui, sepanjang 2019 lalu, realisasi investasi China ke RI justru mengalami peningkatan tajam mengalahkan Jepang. Peningkatan tersebut terjadi karena China agresif untuk menerima banyak proyek pembangunan serta sektor usaha yang prospektif di Indonesia.

Realisasi investasi dari China ke Indonesia di 2019 naik 100% yaitu mencapai US$ 4,7 miliar atau setara Rp65,8 triliun dengan kurs Rp14.000.

Dengan begitu, posisi realisasi investasi China ke Indonesia saat ini berada di urutan kedua setelah Singapura yang masih unggul dengan realisasi investasi yang mencapai US$ 6,5 miliar atau setara Rp 91 triliun.

Disusul dengan realisasi investasi di urutan ketiga yaitu Jepang senilai US$ 4,3 miliar dolar AS atau setara Rp 60,2 triliun. Hong Kong US$ 2,9 miliar atau Rp 40,6 triliun dan Belanda US$ 2,6 miliar dolar AS atau Rp 36,4 triliun. Sebelumnya, selama 2018, realisasi investasi dari China hanya sebesar US$ 2,4 miliar atau sekitar Rp 33,6 triliun.

Meski mengalami kenaikan hingga 2 kali lipat, Bahlil tetap khawatir, wabah virus Corona ini dapat membuat para investor China memundurkan jadwal pembangunan proyek yang sudah disepakati, sehingga berpotensi menjadi proyek investasi mangkrak.

“Yang kita takutkan adalah jangan sampai, mereka yang baru dapatkan izin, katakanlah baru mau groundbreaking di bulan Februari, malah bisa terhambat. Tapi sampai sekarang belum ada laporan resmi bahwa mereka akan melakukan pengunduran, sehingga kita harap itu tidak terjadi,” pungkasnya. (tim man/merdeka)