Daya Inovasi dan Kreativitas Penyelenggara Pemilu Dituntut

MANGUNINEWS.COM, Manado – Tahapan pemilihan lanjutan kembali begulir. Tantangan baru kini menghadapi penyelenggara pemilihan umum (pemilu). Daya kreasi dan inovasi diuntut untuk bisa menjalankan seluruh tahapan secara maksimal di masa pandemi Covid-19.

Teknologi informasi diyakini menjadi ‘senjata’ penting penyelenggara pemilu dalam menghadapi tantangan ini.

“Semua penyelenggara, termasuk KPU (Komisi Pemilihan Umum), tentu harus memperhatikan protokol kesehatan di masa Covid-19, ketika menjalankan seluruh tahapan. Di sini kreativitas dan model sosialisasi inovatif dengan menggunakan teknologi informasi diharapkan bisa dimaksimalkan,” kata Koordinator Forum Pemuda Peduli Pemilu Sulawesi Utara, Risal Kahidopang, Minggu (14/6).

Menurutnya, berbagai keterbatasan yang kini harus dihadapi tentu tidak kemudian membuat daya kreativitas dan inovasi penyelenggara pemilu juga menjadi terbatas.

“Justru sebaliknya. Metode sosialisasi, pendidikan pemilih, dan cara menghadirkan partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan tentu harus lebih kreatif dan inovatif. Menurut kami, selain memaksimalkan semua ruang media sosial, KPU perlu menyajikan berbagai informasi dalam bentuk video-video pendek, infografis dan mungkin meme-meme, yang terbukti sangat efektif untuk mengedukasi publik di era sekarang ini,” sebut Kahidopang.

Pendapat tersebut ditegaskan Kalfein Wuisan. Akademisi Jurusan Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Manado (Unima) ini menilai, di masa pandemi kini penyelenggara pemilu sudah harus meninggalkan cara-cara konvensional dalam keseluruhan aktivitasnya, terutama yang berhubungan dengan publik.

“Apabila tahapan pemilu sudah dimulai, maka penyelenggara pemilu sudah harus juga memikirkan soal sosialisasi. Terutama yang paling tetap di masa pandemi seperti ini. Kedekatan masyarakat dengan gadget dan internet, menjadi keuntungan yang bisa dimanfaatkan untuk sosialisasi. Sehingga model sosialisasi yang konvensional sudah bisa dialihkan ke model sosialisasi yang lebih cocok dengan konteks terkini,” ujar Wuisan.

“Misalnya, sosialisasi lewat video atau film pendek. Bisa juga sosialisasi lewat karya grafis digital, seperti pamflet dan infografis. Bentuk sosialisasi seperti ini sangat efektif untuk menyampaikan informasi di tengah pandemi yang membuat masyarakat harus banyak di rumah,” tandas sinematografer yang juga penggerak sejumlah komunitas kreatif di Sulawesi Utara ini. (Anugrah Pandey)