Debat Pilgub II Diungkap Lebih Berkualitas, Kairupan Harap Tidak Sekedar ‘Lips Service’

149

MANGUNINEWS.COM, Manado – Debat Publik Tahap II antar Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), diungkap lebih berkualitas dibandingkan debat pertama. Itu dilihat dari penataan panggung, segmentasi waktu, bahkan argumentasi-argumentasi yang dibangun oleh masing-masing paslon.

Hal itu dikatakan pengamat politik, Josef Kairupan, S.IP., M.IP., kepada media ini, Rabu (11/11). Menurutnya, debat publik ini menjadi salah satu indikator dalam meningkatkan nilai keterpilihan paslon, melalui gagasan-gagasan yang disampaikan, kemampuan penguasaan kondisi daerah, dikaitkan dengan langkah solutif melalui visi, misi dan program masing-masing paslon.

“Untuk performance dan penguasaan panggung, ketiga paslon mengalami tren positif. Mungkin dengan mempelajari pelaksanaan debat yang pertama, sehingga semua paslon tampil secara prima,” ujar Kairupan.

“Mencermati esensi dari argumentasi-argumentasi yang dikemukakan oleh para paslon, dapat disampaikan dengan cara yang lugas, sederhana, walaupun tidak semua masyarakat mampu memahami setiap perkataan paslon,” sambungnya.

Namun, lanjut Kairupan setidaknya ada peningkatan. Masing-masing paslon telah dibekali dengan data real dan valid, untuk mengemukakan alasan masing-masing, bahkan mampu menjabarkan langkah konkrit yang akan dilakukan jika terpilih nanti.

“Tetapi dalam maksud debat ini perlu argumentasi yang mengandung sugesti, agar physiologicall mesagge dapat tersampaikan dengan baik, sehingga  mempengaruhi persepsi pemilih bahkan spirit yang terkandung melalui perkataan perlu diingkatkan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, debat publik juga dapat dimanfaatkan sebagai personal branding dari masing-masing paslon, agar dapat memancarkan personality and social baranding paslon, sehingga memberikan kesan dan makna tersendiri kepada publik.

“Paslon nomor urut satu mampu menguasai panggung dan membangun argumentasi yang baik. Namun masih sering menggunakan perbendaharaan kata-kata yang sebenarnya telah memiliki makna ganda, sehingga cukup menyita waktu yang sudah ditentukan. Bahkan program yang menjadi bagian visi dan misi kedepannya mampu diuraikan secara lugas, tetapi spirit powernya masih perlu ditingkatkan,” terang Kairupan.

Kemudian paslon nomor urut dua dengan gaya bicaranya yang khas, memberikan penilaian dan persepsi tersendiri bagi publik. Namun sayangnya sering terjadi fragmen pernyataan yang tidak sampai finish, artinya memberikan kesan mengambang, sehingga menyebabkan mixed message bagi orang yang mendengarnya, akhirnya maksud yang hendak disampaikan tidak tertangkap jelas oleh pendengar.

“Mungkin ke depannya perlu membangun argumentasi yang konstruktif dan solutif, untuk penguatan maksud uraian visi misi dan program kerjanya agar lebih dimengerti oleh publik, dan perlu juga menghindari pengulangan-pengulangan kata yg membuat bias maksud pernyataan,” jelas Kairupan.

Berbeda dengan paslon nomor urut tiga, Kairupan menilai mereka lebih unggul dengan melihat penguasaan panggung, penguasaan materi, bahkan mampu membeberkan data berdasarkan realita dilapangan yang disertai dengan ide-ide, gagasan dan konsep sebagai solusi terhadap permasalahan yang dikemukakan.

“Keunggulan-keunggulan petahana ini seharusnya menjadi hal yang wajar, karena dimana-mana petahana pastinya lebih unggul satu langkah ke depan, karena sedang dan sudah mengalami hal-hal yang menjadi pertanyaan. Namun, justru sebaliknya adalah sesuatu hal yang sangat memalukan jika penampilan petahana dibawah kualitas lawan-lawanya,” pungkas Kairupan.

Dia berharap, dengan kemampuan masing-masing paslon beragumentasi, semoga bukan hanya unggul dalam debat saja, tetapi karya nyata melalui implementasi program tersebut yang sangat diharapkan, sehingga menyentuh langsung kepada masyarakat.

“Bukan hanya sekedar lips service yang dilakukan untuk mencuri hati masyarakat, padahal hanyalah janji palsu belaka,” kunci Kairupan.

(Anugrah Pandey)