Di Antara Rindu dan Komitmen, Paramedis Berharap Dukungan Masyarakat

MANGUNINEWS.COM, Tomohon – Perjuangan para tenaga medis dalam menghadapi Covid-19, diakui publik sangat luar biasa. Walau tak pernah mundur dalam menjalankan tugas, jauh di dalam benak para petarung garda terdepan ini, ada harapan besar pandemi ini segera berakhir.

Mimpi itu bisa terwujud, asalkan ada kerja sama yang baik dari tenaga medis dan masyarakat. Sayang, masih banyak warga yang abai. Tak heran, sering terdengar luapan rasa kecewa para tenaga kesehatan.

“Tapi sering kali (imbauan mencegah Covid-19) diabaikan. Beberapa hari yang lalu, saya melihat postingan di medsos (media sosial), ada orang yang mengupload foto berkumpul  mengadakan acara HUT, arisan, dan sebagainya,” kata salah satu perawat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Lansot, Kecamatan Tomohon Selatan, Christin Sumolang.

“Kalo dilihat dari acara HUT, boleh ngoni hitung jo kalo di ngoni bersaudara ada berapa kakak-adik, kong tambah lei yang berkeluarga, tambah anak, cucu. Kase kali jo itu samua berapa orang? Lebih disayangkan lagi, saat berkumpul tidak memakai masker. Resiko rentan mo tertular itu kasiang. Ngoni nentau ada yang OTG (Orang Tanpa Gejala), kage so di sekitar situ, ngoni nentau dia dari mana, da kaluar pi mana? Kage so kontak dengan yang so positif, ngoni nda sadar,” ujar Sumolang.

“Hello…sayang akang ngoni pe keluarga dengan torang tenaga medis pe suar lelah. Maso kaluar orang pe rumah for mo ba tracking, ba cari-cari yang so kontak dengan yang so positif, kong pake APD (alat pelindung diri) seadanya,” ungkapnya.

Sebagai manusia, Sumolang mengaku sedih menyaksikan kenyataan itu.

“Sedih, kecewa, marah itu pasti. Kami juga manusia biasa, punya keterbatasan.  Torang punya keluarga masing-masing, suka mo tinggal jo di rumah dengan keluarga. Kadang kala terbersit dalam pikiran kami, mo suka mundur. So lelah pake-pake ini APD. Kalo pulang rumah ini APD belum langsung mo buang, torang mo cuci lagi,” tuturnya.

“So lelah kasiang ba melayani selama kurang lebih 4-5 jam da pake ini. Haus, lapar, ta suar-suar sampe baju basah, tetap ba pikiran nanti jo satu kali di rumah. Itu pun di rumah belum langsung mo makan. Torang musti mo cuci dulu ini baju torang da pake, abis itu torang baru mo bersih-bersih diri (mandi), baru mo makan siang. Lengkali makang so sore karna ba cuci baju. Musti se tono dulu toh, tako jang ta kena virus,” tutur Sumolang.

Diakui, keinginan pulang kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga sering hinggap ke paramedis. Namun, hingga kini ada banyak yang belum bisa mewujudkan keinginan itu.

“Torang pe tamang Puskesmas yang so suka skali pulang, mo baku dapa dengan keluarga, baku dapa dengan istri dan anak-anak, dari bulan Maret sampe skarang belum baku-baku dapa karna Covid -19 ini yang semakin meluas,” ungkapnya.

“Kapan ini pandemi mo berakhir, kapan mo kembali normal lagi, kalo mereka (masyarakat umum) tidak peduli dan tidak bekerja sama untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini?,” tuturnya.

Besar harapan para perawat, Covid-19 ini dapat berakhir secepatnya.

“Ketika kita mempercayai waktunya Tuhan dan saat kita berserah, maka kita akan menjadi pribadi yang penyabar, juga tangguh. Ia menjadikan kita hebat dan kuat, iman kita pun tidak akan lemah,” kata Sumolang.

“Tenaga medis tidak akan menyerah sampai wabah ini berakhir. Kami akan tetap berjuang sampai selesai,” pungkasnya. (Denny Pongayow)