Di Kotamobagu, Cherish Harriete Bicara Soal Pancasila dan Kaum Milenial

MANGUNINEWS.COM, Kotamobagu – Senator Sulawesi Utara Cherish Harriete kembali mengunjungi warga Bumi Nyiur Melambai, khususnya di Kota Kotamobagu, 8 Februari 2020.

Kartini Sulut yang berjuang di Senayan ini datang menggelar sosialisasi 4 pilar dan berdiskusi soal pentingnya Pancasila dalam kahidupan berbangsa.

“Pancasila penting dijadikan cara hidup (way of life) seluruh anak bangsa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Ada banyak nilai yang terkandung dalam Pancasila, seperti menghormati perbedaan, rela berkorban, pantang menyerah, gotong royong, patriotisme, persatuan, nasionalisme, harga diri, dan lainnya,” katanya.

Ia menilai, Pancasila adalah pandangan hidup yang menyatukan bangsa Indonesia yang beragam suku, ras, bahasa, dan agama.

“Pancasila menjadi norma utama dalam penyelenggaraan bernegara sebagai sebagai sumber dari segala sumber hukum tertinggi, menjadi pandangan hidup bagi bangsa Indonesia, dan jiwa yang mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia, ” paparnya.

Ia mengaku setuju bahwa Pancasila sangat perlu disosialisasikan kepada generasi milenial.

“Generasi milienial atau generasi Y yang saat ini berumur antara 18–36 tahun merupakan aset bangsa karena sedang di masa produktif. Sekarang dan di masa depan generasi ini akan mengisi segala ruang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Cherish menytakan, pada beberapa literatur, dijelaskan kelebihan generasi millenial adalah mempunyai rasa percaya diri yang tinggi serta daya kreativitas yang baik.

“Di sisi yang lain, karena proses pertumbuhannya di era yang penuh dengan tekhnologi canggih yang serba otomatis, maka generasi ini kadang menginginkan sesuatu yang serba instan dan kurang kritis pada sesuatu hal yang baru,” ulasnya.

Ia juga menyinggung soal terorisme, hedonisme dan ideologi atau ajaran lain dari barat yang tidak semua sesuai nilai hidup bangsa Indonesia. Ini dianggap menjadi tantangan tersendiri bagi generasi milenial yang umumnya pelajar dan mahasiswa ini.

“Ketergantungan yang cukup tinggi terhadap berbagai perkembangan teknologi digital dan online diharapkan menjadi kekuatan generasi ini, bukan justru sebaliknya, memberi dampak negatif, seperti pengaruh radikalisme dan tindakan intoleran, ” imbaunya.

“Dengan adanya tantangan tersebut, penanaman nilai-nilai Pancasila perlu untuk menyentuh kelompok generasi milenial dengan pendekatan atau metode-metode pembelajaran yang sesuai dengan konteks mereka, ” tandasnya. (phee)