Gugatan Sengketa Lahan di Desa Rumengkor Terus Berproses

MANGUNINEWS.COM, Manado – Hukum Tua (Kumtua) Desa Rumengkor, Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Marthinus Mamuaja sejak Agustus lalu digugat dalam perkara perbuatan perlawanan hukum. Gugatan ini sudah dalam proses peradilan dengan Nomor Perkara 311/Pdt.G/2020/PN.Mnd. Hal ini diungkapkan kuasa hukum penggugat Petronella Sundah, Selasa (19/1).

Sudah menjelaskan, Mamuaja digugat oleh Johana Kaparang atas permasalahan sengketa tanah milik dari Maksi Kaparang. Dalam gugatan terlapor, Mamuaja diduga telah menguasai sebagian lahan milik dari keluarga penggugat. Menurut Sundah, dengan adanya surat hak milik penggugat, kedudukan lahan saat ini tidak lagi sesuai.

“Dengan laporan penggugat, data yang ada pada kami, lahan keluarga dari penggugat sesuai dengan surat hak milik, diduga sebagian telah dikuasai oleh tergugat, keluarga Marthinus Mamuaja-Lumi. Kedudukan lahan saat ini tidak lagi sesuai dengan surat hak milik atas nama Maksi Kaparang, nomor register 266 yang di dalam tertera batas-batas lahan dengan luas tanah 510,90. Itu yang menyatakan tergugat diduga telah mengambil sebagian lahan milik dari penggugat,” ungkap Sundah.

Ditambahkannya, sebelum masuk proses pengadilan, telah beberapa kali mengajak tergugat untuk menyelesaikan ini secara kekeluargaan tetapi tidak di indahkan oleh tergugat.

“Kami sudah berapa kali mengajak tergugat, Bapak Marthinus untuk supaya menyelesaikan permasalahan ini dengan secara kekeluargaan. Tapi tergugat hanya mengatakan untuk melanjutkan ke pengadilan dengan alasan tergugat hanya membeli tetapi tidak bisa menunjukkan surat keterangan dimana membenarkan tergugat telah membeli lahan tersebut. Alasan tergugat, surat demikian hilang,” terang Sundah.

Dari alasan tersebut, proses berlanjut di pengadilan Negeri Manado pada 25 agustus 2020. Dalam sidangan tersebut diberikan kesempatan mediasi tetapi tergugat bersikeras melanjutkan.

“Dengan alasan tergugat, kami melanjutkan kasus ini dalam persidangan di pengadilan negeri Manado, pada tanggal 25 Agustus. Dalam proses sidang berjalan, ada 2 kali masa mediasi antar penggugat dan tergugat. Tetapi tergugat tetap ingin melanjutkan,” kata Sundah.

“Pihak kami, penggugat terhadap tergugat meminta hak miliknya dikembalikan sesuai register. Namun, tergugat tetap bersikeras. tergugat mengatakan kalau diminta ganti rugi, dalam hal ini dirupiahkan, tergugat tidak mau,” pungkasnya.

Diketahui, hari Selasa 19 Januari dijadwalkan pelaksanaan sidang pembacaan putusan. Keluarga berharap agar persoalan ini bisa segera selesai dan memiliki kepastian hukum.

Johana Kaparang sendiri bertindak mewakili kakak beradik yakni, Magdalena Kaparanag, Cyrilius Kaparang, Hubertus Kaparang, Angela Kaparang, Herens Kaparang, Raynoldus Kaparang, Agustina Kaparang, Oktavianus Kaparang, Yasentha N. Kaparang, Yulia Kaparang yang adalah anak-anak dari Maksi Kaparang.

Pihak penggugat memiliki surat hibah tahun 1952, dimana surat tersebut berisi keterangan lahan yang dimaksud telah dihibahkan kepada Sabinus Kaparang yang adalah ayah Maksi Kaparang sebagai ahli waris. Adapun, dalam surat hibah tersebut terterah nama-nama pemberi atau penghibah, yakni Anace kaparang, Pitersina Kaparang, Jusoph Kaparang (Kopral) Petrus Kaparang, Darius Kaparang.

Penulis: Rikson Karundeng

Editor: Lefrando Gosal