Jemmy Toni Tuegeh: Budayawan, Sejarawan dan Kolektor

Penulis: Anugrah Pandey

Jemmy Toni Tuegeh, biasa disapa Tonaas Toni dikenal orang banyak sebagai budayawan, sejarawan, bahkan kolektor. Pria yang lahir di Tomohon 18 November 1962 ini juga dikenal sebagai sosok yang baik dikalangan keluarga bahkan masyarakat luas.

Tak segan-segan, istri tercinta Grace Kures mengatakan dialah yang patut keluarga contohi dan teladani. Tonaas Toni paling marah sekali apabila melihat pertengkaran.

“Dia selalu bilang jangan marah-marah. Dia malu kalau kita bertengkar. Jadi dikatakannya mesti saling menyayangi. Bapak suka sekali melihat orang tersenyum, karena selalu dia bilang senyum itu adalah ibadah,” katanya.

Diakhir Tonaas Toni meninggal, ada pesan yang ia sampaikan. Sebenarnya istri tercinta masih sangat kehilangan sosok beliau, tetapi apa kata Tonaas Toni, dia sudah pasrah apa yang akan terjadi padanya.

“Dia sudah ikhlaskan, karena kami keluarga juga sudah mengikhlaskan. Bila kami keluarga tidak mengikhlaskan kepergiannya, maka ia tidak akan tenang di alam sana,” tandasnya.

Sementara itu, anak-anak Tonaas Toni yakni, Christian Tuegeh, Pethor Tuegeh dan anak mantunya Nensie Kotambunan juga mengungkapkan sosok ayah mereka itu.

“Kalau menurut saya, ayah itu tegas dan baik. Ayah selalu tekankan dan bilang pada saya terus berbuat baik pada semua orang, supaya semua orang juga jadi segan dan simpati ke saya,” singkat Christian, anak pertama Tonaas Toni.

Ditambahkan anak mantunya, meskipun baru sekitar 8 tahun bersamanya, ia bisa menilai sosok Tonaas Toni yang baik hati dan sangat tegas kepada mereka.

“Kalau saya sebagai anak mantu, memang baru sekitar 8 tahun. Tapi dalam kurun waktu itu yang saya bisa lihat dari sosok seorang papa mantu saya, ia adalah sosok yang sangat tegas kepada kami anak-anak, istri maupun kepada keluarga besarnya. Papa adalah sosok yang bisa menjadi panutan, dimana papa mengajarkan kepada kami untuk bertanggung jawab dalam segala hal. Selain itu, papa sebenarnya sosok yang sayang keluarga,” ungkap Nensie.

Senada dengan kakak-kakaknya, Pethor Tuegeh juga mengatakan bahwa ayahnya sangat keras, displin dan tegas.

“Kalau dulu kami berbuat kenakalan, memang ‘cuma ja sein sadiki iko tako’, karena beliau pendiriannya begitu. Juga latar belakang dulu kakek berprofesi tentara, jadi papa juga dilatih dan dididik dengan sistem tentara. Saya sering mengikutinya ketika melakukan perjalanan budaya. Selama saya berjalan bersama papa tidak pernah ada rasa takut, karena tiap daerah banyak yang kenal padanya. Padahal papa dulu pernah ada trauma kecelakaan di motor, tapi kalau dengan saya ia yakin,” tukasnya.

 

Budayawan, Sejarawan dan Kolektor

Banyak yang bertanya-tanya mengapa Jemmy Toni Tuegeh disebut sebagai budayawan, sejarawan, bahkan kolektor. Mungkin hal-hal tersebut terbukti lewat kerja-kerja Tonaas Toni selama ia masih hidup. Seminggu meninggalnya Tonaas Toni, pihak keluarga mengungkapkan kehidupan sosok beliau.

Menurut keluarga, dikatakan Tonaas Toni sebagai budayawan, sejarawan dan kolektor, mungkin karena hobi beliau yang suka menelusuri, mempelajari, mendatangi tempat-tempat bersejarah di Minahasa dan suka mengoleksi uang, koin dan benda-benda kuno.

Di kediaman beliau, tepatnya di Jl. Okoy, Kelurahan Kakaskasen, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon, berdiri Rumah Budaya Suku Minahasa yang dimiliki oleh Tonaas Toni. Dalam Rumah Budaya tersebut terdapat sejumlah benda-benda yang konon merupakan peninggalan leluhur.

Konsistensinya dalam perjalanan menelusuri Minahasa dan banyak menaruh perhatian pada budaya Minahasa, membuatnya pantas disebut oleh orang banyak sebagai budayawan. Ia juga tidak hanya tau budaya Minahasa, tapi beberapa budaya daerah lain diketahui Tonaas Toni. Beliau pernah mengatakan ‘mengenal adat budaya sendiri sebagai jati diri dan mengenal budaya lain sebagai pengetahuan dan perbandingan’.

Selain budayawan, ia juga disebut sebagai sejarawan. Itu bisa dibuktikan lewat karya-karya tulis Tonaas Toni, salah satunya ia pernah menulis buku tentang ‘Minahasa Tempo Dulu’. Dibeberkan oleh salah satu anaknya yang selalu mengikuti Tonaas Toni saat melakukan perjalanan budaya, dimana setiap usai ataupun dalam perjalanan, Tonaas Toni selalu mendokumentasikannya dengan mempelajari dan menulis sejarah-sejarah dalam setiap kunjungannya di situs-situs bersejarah budaya Minahasa.

Tak hanya itu, dirinya juga hobi dalam mengumpulkan atau mengoleksi uang kuno (numismatik) dan prangko (filateli), sehingga Tonaas Toni dikenal juga sebagai kolektor. Terlihat dalam Rumah Budaya Suku Minahasa yang dimilikinya itu, berjejer bermacam-macam jenis dan nominal uang dan prangko, baik dari Indonesia maupun negara-negara lain.

Saking banyaknya koleksi yang dimiliki Tonaas Toni dalam Rumah Budaya Suku Minahasa yang disebutnya museum itu, membuat para wisatawan datang ke museum tersebut hanya untuk melihat koleksinya.

“Tidak terhitung koleksi papa di rumah. Banyak orang mau membeli tapi tidak diberikan, ada orang yang meminta malah ia kasih,” ujar keluarga.

Diakhir hayatnya, Tonaas Toni berpesan kepada keluarga untuk menjaga sebaik-baiknya barang-barang tersebut. Ia juga hanya suka kalau semua karya, benda-benda, ataupun koleksinya di museum tersebut dinikmati oleh keluarga terlebih untuk cucunya.

 

Ungkapan Terakhir Tonaas Toni Jelang Kematiannya

Menjelang akhir hidupnya, Tonaas Toni sempat mengungkapkan perasaan ataupun permintaan yang ditulisnya dalam sebuah komputer dan tidak diketahui sebelumnya oleh istri dan anak-anaknya. Nanti setelah ia meninggal, baru diketahui oleh keluarga.

Di bawah ini hanya dikutip akhir tulisan yang dibuat Tonaas Toni:

Bila nanti aku mati, aku ingin istri dan anakku nanti menjagaku dalam setiap doa mereka. Aku ingin mereka yang menyayangiku tetap tersenyum setelah tiba waktunya.

Kematian adalah hal mutlak yang pasti akan dialami oleh setiap yang bernyawa termasuk manusia. Ketika seseorang menderita sakit yang parah dan mendapat kemungkinan kecil untuk hidup lebih lama, biasanya menjadi pertanda bahwa waktu kematian semakin dekat.

Meskipun maut adalah misteri alam semesta yang tak diketahui siapa pun, kapan kematian akan datang menjemput manusia memang sepenuhnya wewenang dan kekuasaan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Tak satupun yang mengetahui kapan takdir kematiannya akan datang menjemput.

Usia adalah rahasia. Bahagia atau berduka menjadi akhir dari cerita kita di dunia juga adalah rahasia. Tetapi Tuhan memberikan kita sebuah kepastian, adalah ketika kita berusaha menebar kebaikan, menunaikan kewajiban, menuntaskan amanah, maka sudah pasti akan berakhir dengan kebahagiaan.

Always Love You
-Your Father-