Kembali Babat Hutan, PT BML Diduga Sewa Warga dan Libatkan Aparat Kepolisian

MANGUNINEWS.COM, Minahasa – Pembabatan hutan kembali dilakukan oleh pihak perusahaan PT. Bangun Minanga Lestari (BML) dan diduga menyewa warga yang jauh dari lokasi hutan untuk melakukan pemasangan patok yang telah masuk dalam kawasan Hutan Kolongan Sea dengan melibatkan aparat kepolisian, Rabu (19/5) sekitar pukul 10.30 Wita.

Melihat hal tersebut, warga sekitar langsung menghadang dan terjadilah konflik adu mulut. Terlihat, patok yang ditancapkan dicabut kembali oleh salah satu warga desa Sea, Magdalena Tamuntuan.

Awalnya, Tamuntuan kaget melihat satu truk mobil kepolisian tiba-tiba datang di lokasi bersama pihak PT. BML. Sontak dirinya langsung hadir dan mencegah eksploitasi Hutan Kolongan Sea terus dilakukan.

“Kita lia pagi-pagi rumah so datang polisi pe banyak, kong so mulai dorang paras. Makanya kita langsung inisiatif cabut tu patok-patok yang so di dalam kawasan hutan lindung. Dorang leh so cabut-cabut tu patok-patok yang warga so kase batas di mana yang seharusnya kawasan hutan,” ujarnya.

Keberadaan polisi di kawasan Hutan Kolongan Sea pun dipertanyakan oleh warga. Dikala warga berusaha meminta surat tugas, aparat kelabakan melayani permintaan tersebut, hingga diminta untuk membaca dengan keras surat perintah pihak kepolisian, tapi surat perintah tersebut sudah kadaluwarsa alias berlaku tahun 2020.

Di waktu yang sama, warga desa Sea yang berjuang demi kelestarian Hutan Kolongan Sea diundang oleh pihak sekretariat daerah kabupaten Minahasa, dengan nomor surat 005/213/Sekr-Bag.SDA perihal undangan rapat evaluasi pembangunan perumahan.

Diketahui, masyarakat yang diundang berjumlah 15 orang. Akan tetapi, saat sampai di ruang sidang bupati hanya diperbolehkan masuk 6 orang.

“Sisanya yang berada di luar pagar tidak dibiarkan untuk duduk dan menunggu di ruang layak. Akhirnya dengan keputusan bersama dengan merasa dipermainkan, warga pun menarik diri dalam rapat tersebut, karena dianggap tidak profesional dan tidak sesuai undangan di awal,” ujar James Elkana Giroth, warga desa Sea yang juga berjuang bersama warga lainnya.

“Ini terkesan sengaja di saat warga yang menolak pembangunan perumahan beritikad baik memenuhi undangan rapat dari sekda Minahasa, di saat yang sama pembabatan hutan dilakukan oleh pihak PT. BML yang dikawal langsung oleh aparat kepolisian dari Polda Sulut,” lanjutnya.

Ia merasa kecewa atas sikap arogan PT. BML yang muncul lagi, dengan melakukan pembongkaran paksa hutan mata air Kolongan Sea.

“PT. BML menyewa masyarakat yang jauh dari lokasi hutan untuk bekerja harian, serta melibatkan kepolisian yang membawa surat perintah tapi anehnya surat perintahnya tahun 2020. Setelah dianggap masyarakat surat perintahnya ada yang janggal, kepolisian dan orang sewaan angkat kaki dari hutan mata air Kolongan Sea. Padahal di jam yang sama kami masyarakat diundang untuk melakukan pertemuan dengan pemkab Minahasa,” kuncinya.

Penulis: Anugrah Pandey