Kisah di Balik Lagu ‘Sayang-Sayang Si Patokaan’ dan Soal ‘So Jadi Orang’

98
Pdt. W. A. Roeroe

Catatan: RIKSON KARUNDENG

‘Sayang-Sayang si Patokaan’, sebuah lagu yang sangat populer sejak tempo dulu, baik di wilayah nusantara maupun mancanegara. Lagu ini bahkan menjadi ‘lagu wajib’ di sekolah-sekolah dan dikenal sebagai lagu daerah dari Minahasa. Namun, barangkali sedikit saja orang yang memahami latar belakang historis maupun makna di balik syair lagu ini.

Pdt. Prof. DR Wilhemus Absalom Roeroe, budayawan Minahasa mengisahkan, pernah ada peristiwa di paruhan kedua tahun 1950-an, ketika kapal perang Sovyet Rusia berlabuh di Tanjung Priok. Sebagian penghuni kapal tersebut turun untuk main bola persahabatan di lapangan Ikada Jakarta dan ikut melakukan pertunjukan singkat dengan melagukan antara lain ‘Sayang-Sayang Si Patokaan’.

“Kami yang mendengar terkejut. Di zaman-zaman perpeloncoan mahasiswa di tahun 1950-an memang sering sekali terdengar juga dinyanyikan lagu ini sebagi salah satu lagu daerah. Sejak waktu itu semakin bergairahlah saya untuk mengetahui makna lirik dan syair lagu itu,” ungkap Roeroe, mengenang.

Tetua Minahasa ini menjelaskan, dirinya pernah melihat naskah asli lagu tersebut, juga ayat keduanya. Menyesal ia tidak dapat memperolehnya lagi sekarang tetapi isi terjemahannya masih tersimpan kuat di memorinya.

“Sebenarnya lagu ini lagu rakyat Minahasa berupa cemoohan orang Tatelu kepada orang Patokaan. Patokaan adalah satu desa kecil dan terpencil di sebelah barat laut Bandara Sam Ratulangi sekarang. Hingga di tahun 1930-an kawasan luas bandara itu, termasuk wilayah Patokaan sekarang ini, adalah daerah rawa sehingga terkenal dengan sarang nyamuk dan penyakit malaria tropika. Orang Jakarta menyebut kawasan semacam itu tempat setan dan jin membuang anaknya yang tidak disukainya,” katanya.

Dituturkannya, entah karena tertarik bagaimana rupa, di tahun 1920 sampi 1930-an ada orang-orang Tonsea Minawerot dan Tatelu-Laikit melihat bahwa kawasan itu baik untuk dijadikan lahan perkebunan. Mulailah mereka mengelolah tanah di sana untuk pertanian dan menanam kelapa, buah-buahan: langsat, durian dan membuka persawahan. Mula-mula mereka masih sering pulang kampung, namun ketika mulai sibuk, mulailah mereka menginap dan menetap (matoka, bahasa stempat), lalu tempat itu mulai digelar Patokaan atau tempat mampir, menginap. Mulailah mereka membangun pondok-pondok di situ. Padahal nyamuk malaria belum habis di sana sampai bertahun-tahun kemudian.

Pendeta Roeroe juga menceritakan, di zaman perang dunia ke-II, ketika Jepang menduduki Minahasa di tahun 1942-1945, mereka membangun lapangan terbang di sekitar Patokaan. Pada awal pembangunan, dikerahkanlah banyak laki-laki di tanah  Minahasa. Mereka diangkut secara bergiliran dengan truk-truk Toyota. Masing-masing membawa bekal sendiri, padahal keluarganya ditinggalkan dengan kekurangan makanan.

Selama 1-2 minggu kerja paksa, mereka mengangkut pasir dan tanah untuk menimbun dasar utama bagi lapangan terbang. Untuk kerja paksa itu mereka juga disuruh menyayi ‘Sungguh senang, amat senang, kerja di Mapanget sungguh senang’. Padahal mereka sudah kekurusan, dihinggapi berbagai penyakit, terutama malaria tropika, sama seperti orang-orang Patokaan. Di daerah itu banyak laki-laki Minahasa meninggal karena kerja paksa dan kalaupun ia masih pulang kampung, pasti ia pucat-pucat kuning karena malaria itu.

“Zaman sebelum itu lebih parah. Mereka yang menjadi mula-mula mengelolah Patokaan, pucat-pucat kuning karena malaria. Sewaktu-waktu tertentu si penderita menggigil keras ato totofore. Nah orang Patokaan seperti inilah yang ketika dilihat oleh orang Tatelu, desa di sebelah timur Patokaan dan Mapanget, diolok-olok, dicemooh oleh orang Tatelu dengan lagu yang mereka ciptakan dan kemudian menjadi terkenal. ‘Sayang-sayang si Patokaan, matigo-tigor-gor okan, sayang’. Ah kasihan, orang Patokaan sana, mengigill terus saja kelihatannya. ‘Taan Sako mangemo ti tanah jaoh, mangemo mile-ilek lako, sayang’. Tapi kalau mau berangkat ke tanah jauh, lihat-lihatlah atau hati-hatilah di perjalanan,” kisahnya.

Biarpun begitu, ternyata ada juga lelaki di Patokaan yang sempat lolos menjadi tentara KNIL, tentara kolonial Belanda atau orang yang keluar kampung dan menjadi pegawai ‘kecil’ Belanda. Orang Patokaan semacam inilah yang menjawab cemoohan orang Tatelu dengan irama dan nada yang sama yang kemudian menjadi ayat kedua dari lagu tersebut. “Terjemahannya, ‘memang betul orang Patokaan ini sering nampak menggigil tapi biarpun begitu sudah sempat ia ke Belanda,” terang Roeroe.

Menurutnya, di zaman itu, umumnya laki-laki Minahasa jika sudah sempat keluar kampung, melampaui Pelabuhan Manado, apalagi kalau dikatakan ‘pake baju ijo’, artinya jadi ‘soldado’ – serdadu KNIL atau bekerja pada Belanda, telah dianggap sudah berhasil hidup, ‘so jadi orang’.

“Jadi lagu ‘Sayang-Sayang Si Patokaan’ lagu rakyat yang pada hakekatnya mencerminakan metalitas atau tolak ukur yang mengatakan kalau menjadi soldado atau pegawai Belanda, sudah menjadi manusia, apalagi kalau sudah lewat Pelabuhan Manado,” jelasnya.

Catatan kritis Pendeta Roeroe, sedikit banyak pemikiran tersebut diwariskan kepada generasi ke generasi hingga sekarang. Kalau tidak menjadi tentara atau pegawai, ‘belum jadi orang’. “Inilah hasil dari sistem dan cara pendidikan yang disebut formal waktu itu. Bidang-bidang kehidupan lain diabaikan atau disepelekan. Menurut saya, itulah juga yang menjadi bencana kita sekarang dan di sini,” tandasnya. (*)