Leluhur Minahasa dalam Visualisasi Wulan

MANGUNINEWS.COM, Tondano – Dalam kepercayaan orang Minahasa, perempuan mendahului eksistensi pria, berbeda dengan agama-agama langit yang patriarkis. Itu pula yang dipahami oleh Wulan Rumengan, mahasiswa S2 Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) jurusan Sosiologi Agama.

Gadis cantik kelahiran tahun 1997 ini turut ambil bagian dalam kegiatan ‘Rodatada Vol. 1 Sinakedan’ yang diselenggarakan di kafe Exceed Coffee Tondano, Jumat (4/9).

Ia memamerkan karya seni rupa berjudul Karema, Rengan, dan Lumimuut. Ketiga karya itu lahir dari perenungan setelah membaca buku berjudul ‘Asal Usul Minahasa’.

Ketika diwawancarai di tempat pameran, Wulan bertutur bahwa karyanya itu merupakan visualisasi dari apa yang dibaca dalam buku. Suatu pengejahwantahan warna-warna dominan yang merepresentasikan tiga leluhur Minahasa sebagai sumber kehidupan.

“Karya yang terdiri dari potongan-potongan kertas yang diberi warna itu merupakan perwujudan imajinasi setelah saya membaca buku ‘Asal Usul Minahasa’. Warna kuning yang dominan dalam Karema merupakan simbolisasi purnama karena dia identik dengan bulan, sedangkan warna merah adalah simbolisasi rahim dalam Rengan sebagai perempuan pertama sebelum Lumimuut,” tutur Wulan sambil mengakui dirinya seorang feminis.

Gadis yang enerjik dan penuh rasa ingin tahu ini melengkapi pameran karyanya dengan sebuah majalah mini bernama Zine-Nalan. Majalah yang diakunya sebagai perkenalan berisi uraian tentang ketiga karyanya. Pada sampul depan tertulis:

“Kamu bisa ambil, baca, nikmati, kritik, bawa pulang dan bagikan. Ini gratis, seperti udara.”

Majalah itu berkesan memiliki unsur anarkisme, feminisme kultural, kritik orientalisme, dan post-kolonialisme. Tetapi ketika ditanya apakah pemikirannya dipengaruhi oleh aliran-aliran itu, dia hanya tersenyum sambil menjawab, “Terserah orang menginterpretasikannya”. (Tim MN)