Pelaku Usaha di Tomohon Kritisi Etika Petugas Hingga Kebijakan Prokes Covid-19

MANGUNINEWS.COM, Tomohon – Salah satu pelaku usaha di Tomohon, mengkritisi etika yang diperlihatkan oleh beberapa oknum petugas patroli hingga kebijakan protokol kesehatan (prokes) Covid-19.

Ialah Kevin Wondal, pemuda yang dikenal akan keuletannya dalam bekerja, menilai apa yang dilakukan beberapa oknum petugas itu, tidak punya etika dan sopan santun saat melaksanakan penertiban di kedainya.

“Saat masuk di kedai, mereka menegur dengan nada yang kasar. Bukan tegas, terlihat seakan-akan sopan tapi terkesan kasar,” ungkap Wondal kepada media ini, Selasa (19/1) di kedainya.

Lanjutnya, bahkan saat customer (red,pelanggan) sementara minum kopi dan makan, disuruh pulang. Menurut Wondal, itu adalah hak mereka karena sudah membayar.

“Saya sangat menghargai customer. Karena sudah membayar, jadi saya tunggu sampai mereka pergi. Maka jangan dipaksa, karena itu hak mereka,” tegasnya.

Bahkan ditambahkannya, orang yang di dalam rumah saja dilarang oleh mereka untuk bermain billiard.

“Sedangkan, kalau kedai ini sudah ditutup, ini sudah jadi rumah saya sendiri. Jadi kalau saya ada tamu di dalam, mereka tidak bisa suruh pulang. Toh, kami disini tidak sampai setengah dari batas jumlah yang ditetapkan kalau dalam ruangan,” ujarnya.

Diakui, kedainya sudah ditutup. “Ketika sudah ditutup, berarti saya sudah tidak akan menerima orderan apapun. Saya tinggal menunggu mereka pulang. Kan torang punya rasa kemanusiaan le to,” tukas Wondal.

Dia juga mengkritisi para petugas soal prokes yang malah tidak ditaati.

“Mereka datang ramai-ramai. Malahan mereka sendiri yang membuat tempat ini padat. Kenapa mereka berkumpul begitu, sementara masyarakat mereka marah kalau berkumpul. Lalu mereka juga tidak cuci tangan saat masuk, sementara setiap customer yang datang mesti cuci tangan,” sambungnya.

Kemudian, Wondal meminta ketegasan dari petugas soal keadilan. “Ada di tempat lain mereka cuma tegur. Kalo pa kita, dong tunggu kasiang sampe dorang pulang samua,” ujarnya.

Dirinya juga mengaku, sebagai pelaku usaha merasa lelah dengan kebijakan yang ia nilai tidak bijak ini.

Ia mengungkapkan, bersama pelaku-pelaku usaha lainnya mengalami kerugian dengan kebijakan ini. Maka dari itu, kami berharap pemerintah kota (pemkot) Tomohon lebih bijak lagi dalam menentukan aturan-aturan yang akan ditetapkan, dan tidak menguntungkan pihak tertentu.

“Semoga saran kami ini dapat dilihat, diperhatikan dan diwujudkan oleh pemkot Tomohon,” tandasnya.

Tak tanggung-tanggung, Wondal juga membuat pernyataan terbuka terkait kejadian ini lewat akun pribadi dan kedainya di media sosial, @extruckcoffe. Menariknya, pernyataan ini ikut dibagikan oleh masyarakat dan pelaku-pelaku usaha lainnya di Tomohon.

Penulis: Anugrah Pandey