Pemkot-ASKI Seriusi Pengembangan Kopi di Tomohon

MANGUNINEWS.COM, Tomohon – Rabu (21/10) sore, Komunitas Kopi Tomohon, sejumlah petani, barista, coffee roaster, pemilik kedai kopi, pengurus Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) Sulawesi Utara, duduk minum kopi bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Tomohon, di Elmonts Coffee & Roastery, Kelurahan Kolongan.

Wali Kota Tomohon, Jimmy F. Eman, hadir langsung bersama Asisten Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah (Setda), O.D.S. Mandagi, Kepala Dinas Pertanian, Steven Waworuntu dan sejumlah pejabat terkait lainnya. Diskusi ini semakin hangat karena dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Tomohon, termasuk anggota Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI), Stefanus B.A.N. Liow.

Berbagai ide dan masukan konkrit disampaikan para pegiat kopi, pemilik kedai dan petani kopi. Mulai dari persoalan budi daya, penguatan sumber daya manusia (SDM), pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga prospek pariwisata kebun kopi. Sederet catatan kritis yang diberikan pun direspon positif Pemkot Tomohon.

“Kita semua penggemar kopi. Hari ini, saya menghadirkan kadis (Kepala Dinas) Pertanian, karena sangat penting, terkait bagaimana kita menciptakan peluang-peluang untuk kopi ke depan,” kata wali kota Jimmy F. Eman.

Menurutnya, pemerintah harus menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Komunitas Kopi Tomohon dan Almontana Paat yang juga Ketua ASKI Sulut, kerena boleh memfasilitasi pertemuan ini.

“Menjadi kebanggaan kami, komunitas ini bisa terbentuk karena motivasi dari kawan-kawan semua. Sebagai pemerintah kami tentu harus berpihak ke UMKM, harus berpihak ke upaya pemulihan ekonomi. Terlebih khusus ekonomi kecil yang natinya kita harapkan bisa jadi pendobrak, jadi startup, seperti yang disampaikan kawan-kawan,” ucap Eman.

Dijelaskan, saat ini memang penting untuk melihat kekuatan dan kelemahan-kelemahan di kota Tomohon, demi menciptakan upaya pengembanghan kopi ke depan.

“Bicara kopi, komunitas kopi, tentu ada di seantero dunia. Kita semua yang hadir di sini, teremasuk saya, itu pencinta kopi. Artinya potensi kopi untuk kita kembangkan ke depan sangat besar. Termasuk juga bagaimana pengembangan penanaman kopi ke depan,” ujarnya.

“Dulu kita tau di Tomohon ada beberapa kawasan yang kita kenal sebagai kebun kopi. Jadi dari sisi kekuatan, kita didukung geografis, makanya kita mendorong petani, komunitas kopi untuk menanam kopi. Apalagi kopi Tomohon seperti pengakuan banyak orang, sangat enak,” tuturnya.

Dijelaskan juga, Tomohon sering menyelenggarakan banyak iven, seperti Tomohon International Flower Festival (TIFF). Banyak orang yang datang sering bertanya soal kopi Tomohon.

“Mereka tanya, pak, mana sebenarnya itu kopi Tomohon. Saya biasa memberikan rekomendasi, peratama kedai-kedai kopi di sini banyak. Saya juga sering datang minum di sini (Elmonts Coffee & Roastery, red), saya rasa kopi Tomohon memang enak,” ungkapnya.

Tomohon diakui punya ketinggian cukup untuk bisa menanam kopi. Secara geografis punya potensi untuk dikembangkan, tapi masih ada kelemahan. Misalnya di ketersedian bibit kopi.

“Kopi yang kita tanam masih berbeda-beda. Kelemahan ini yang kita harapkan bisa diseriusi bersama, termasuk bersama petani, pemilik kedai dan pemerhati kopi. Sehingga kami dapat melakukan strategi-strategi. Misalnya, di Dinas Pertanian kita mendorong bagaimana keterlibatan petani kopi, bagaimana komunitas kopi bisa terus menyampaikan ke dunia luar kalau kopi kita baik,” papar Eman.

Ditegaskan, strategi pemasaran juga harus diperhatikan. Peran pemerintah sangat penting. Diakui, ia sudah memerintahkan Dinas Pertanian, termasuk Dinas Koperasi dan UMKM, bagaimana kiat menciptakan sehingga pemerintah bisa memberikan bantuan-bantuan untuk pengembangan kopi di Tomohon.

“Ada bantuan dari pemerintah pusat, tapi ada juga bantuan dari pemerintah kota. Kita lagi dorong pemberian bibit gratis, termasuk pupuk dan sebagainya. Tapi kami sebenarnya sementara mencari pola, apakah kopi Tomohon yang harus didorong, atau kopi mana yang harus kita kembangkan. Perlu kita memikirkan proses kemasan, metode pemasaran, karena kalau lahan untuk pengembangan kopi di Tomohon itu baik,” jelasnya.

Katanya, strategi yang sementara dibangun pemerintah adalah berupaya banyak memperkenalkan Tomohon. Suasananya sejuk, enak, nyaman, masyarakat dari manapun dapat menikmati kopi di sini.

“Kini kita berupaya mendorong komunitas kopi. Mendorong program-program seperti UMKM di Dinas Koperasi dan Perdagangan. Dinas-dinas lain juga. Seperti apa keberpihakan pemerintah kepada kedai-kedai? Kenapa mo biking acara musti pigi lei di Manado. Di sini juga kan banya tempat enak, kedai-kedai bagus, tidak perlu pakai AC,” tegasnya.

Eman mengungkapkan, pemahamannya, strategi pemerintah harus mendorong dari berbagai segi. Mulai dari penyiapan bibit, menciptakan peluang-peluang investasi untuk kedai-kedai kopi, memikirkan bagaimana memasarkan kopi Tomohon yang enak.

“Kedai-kedai di Tomohon berarti harus menciptkan satu brand,” tandasnya.

Eman juga mengaku bangga ada kominitas kopi di Tomohon. Ini juga jadi pesan ke pemerintah, bagaimana mendorong pengusaha-pengusaha muda yang bergerak di dunia kopi, supaya lebih maju dan berkembang. Mendorong agar para pengusaha muda ini bisa terus berinovasi.

“Saya bersyukur bisa dapat kesempatan ini dengan kawan-kawan komunitas kopi. Dari sini kita bisa saling berbagi, sharing, bagaimana menciptakan keberhasilan-keberhasilan ke depan sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lagi resesi akibat pandemi. Peluang-peluang harus dibangun juga oleh teman-teman komunitas kopi, dan pemerintah akan siap mendorong. Kalau perlu kita sering menggelar kegiatan-kegiatan diskusi seperti ini di kedai-kedai kopi, sambil minum kopi dan terus memikirkan strategi terbaik ke depan,” ucap Eman.

Di ujung diskusi tersebut, Eman berharap, masukan-masukan yang sudah diberikan para petani, barista, pemilik kedai dan pemerhati kopi, bisa membantu pemerintah sehingga mampu melihat semua potensi, peluang untuk didorong dalam rangka pengembangan kopi di Tomohon.

“APBD tahun 2021 sementara dibahas, karena itu program-program pertanian dan perkebunan, UMKM, juga harus kita pikirkan untuk diakomodir sebagai wujud keberpihakan pemerintah terhadap petani kopi, pemilik kedai, dan pelaku ekomoni lain yang terkait dengan kopi. Mudah-mudahan aspirasi kawan-kawan bisa didengar, didokumentasikan, dan didorong agar dapat terakomodir dalam APBD 2021,” kunci Eman. (Rikson Karundeng)