Protes Kasus Rasisme, IPB dan Masyarakat Bobo ‘Aksi Bisu’

MANGUNINEWS.COM, Tidore Kepulauan – Ikatan Pemuda Bobo (IPB) dan masyarakat Kelurahan Bobo, Kecamatan Tidore Utara, menggelar ‘aksi bisu’ di Polres Tidore Kepulauan, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara (Malut), Selasa (9/6) sekitar pukul 13.39 WIT. Aksi ini untuk menindaklanjuti kasus rasisme terhadap masyarakat Kelurahan Bobo.

Kasus penghinaan beraroma rasisme terhadap masyarakat Kelurahan Bobo, disebutkan sudah berulang kali terjadi. Alasan inilah yang mendorong IPB dan masyarakat Bobo kembali melakukan ‘aksi bisu’.

Dalam demo ini mereka menyerukan ‘Stop Rasisme’ dan menuntut aparat hukum memenjarakan oknum yang diduga sebagai pelaku kasus rasisme.

Ketua IPB Aidar Sasala menyampaikan, terkait kasus pencemaran nama baik ini, pihaknya sudah melayangkan surat pengaduan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti secara hukum kasus penghinaan terhadap masyarakat Kelurahan Bobo. Menurutnya, kasus ini dilakukan DK alias Djun, melalui pesan messenger kepada Nursaida Ibrahim, warga Bobo.

Isi pesan itu dibeberkan. “Orang Bobo kong bilang cantik dong mangkali laef lama ini tarada orang Bobo yang cantik krikkrik. Satu keren deng orang papua. orang Bobo ko di bilang orang papua,” tulis Djun dalam pesannya ke Nursaida.

“Ini merupakan bentuk penghinaan dan kami masyarakat Kelurahan Bobo tidak terima sehingga kami melaporkan ke Polres Tidore Kepulauan untuk ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Biar ada efek jera bagi yang lain,” tegas Aidar.

Kasat Reskrim, Polres Tidore Kepulauan AKP Dedy Yudanto, S.I.K., menjelaskan dalam dugaan kasus rasisme ini, ada tiga pelaku. DK alias Djun, A alias Ayu, dan NI alias Nur.

“Kami akan tahan (para terduga pelaku), kami tidak pilih kasih, dan siapa yang salah maka kami akan giring ke proses hukum yang berlaku,” ucap Kasat Reskrim.

Koordinator aksi, Idhar Ishak kembali menyampaikan, kasus rasisme ini sudah berulang terjadi oleh karena itulah harus diberikan penegakan hukum yang keras sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

“Agar kasus ini tidak terulang lagi, berharap kepada pemerintah kota, Sultan Tidore dan Kepolisian, TNI di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Malut, agar turut prihatin terhadap kasus ini. Karena kasus penghinaan masyarakat Bobo ini sudah berulang-ulang kali terjadi maka dari itulah penegakan hukum harus dipertegas.  Stop rasisme,” ucap Idhar.

Informasi yang diperoleh, pelaku rasisme disebutkan berasal dari Kecamatan Tidore Timur dan Kecamatan Tidore Tengah. Para pelaku terancam dijerat pasal 16 Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Dalam pasal ini dijelaskan, setiap orang yang sengaja menunjukkan rasa benci berdasarkan diskriminasi ras dan etnis maka terancam hukuman pidana penjara paling lama lima tahun atau dengan denda Rp. 500 juta.

Di situasi pendemi Covid-19 ini, IPB bekerja sama dengan Polres Tidore Kepulauan akan mempersiapkan ‘Deklarasi Stop Rasisme di Kota Tidore Kepulauan’. IPB juga berharap organisasi kepemudaan di setiap kelurahan maupun desa turut berpartisipasi dalam deklarasi tersebut. (Yusri Y. Marsaoly)