Sam Ratulangi Cs Gagas Festival Maengket Pertama

84

Catatan: RIKSON KARUNDENG

Ada banyak hal menarik untuk disimak dari Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Tak sedikit kiprah dan gerak perjuangannya diulas berbagai penulis seantero dunia. Namun diyakini banyak juga yang belum terkuak ke permukaan publik. Salah satunya peran pahlawan nasional Indonesia itu dalam membawa tarian Maengket ke panggung pentas. Obsesi membangkitkan kebudayaan Minahasa, identitas tanah kelahirannya, jadi alasan.

Pada 5 November 2018, masyarakat Minahasa merayakan hari ulang tahunnya yang ke-590. Pada lembaran historis tergores, tanggal dan bulan perayaan itu diambil dari tanggal (waktu) kelahiran G.S.S.J. Ratulangi. Intelektual Minahasa yang dikenal banyak melahirkan beragam gagasan menarik bagi Indonesia, termasuk tanah kelahirannya Minahasa.

Sejarawan Sulawesi Utara, Fendy Parengkuan mengakui ada banyak hal menarik yang terkait dengan sosok yang akrab disapa Sam Ratulangi itu namun tidak terekspos sehingga kurang diketahui publik. Ada juga karena tidak ada data tertulis namun di masanya sangat diketahui publik, terekam dalam ingatan orang-orang yang pernah bersentuhan dengannya.

Salah satu contoh, peristiwa penting yang tercipta di tahun 1925. Di waktu itu, Ratulangi menggagas ‘Festival Maengket’ untuk pertama kali di Minahasa.

“Itu festival budaya Minahasa yang pertama. Kegiatan itu digagas Ratulangi bersama dokter Hendriks dan Kapten Kawilarang,” ungkap Parengkua baru-baru ini.

Masyarakat Minahasa menggunakan banyak istilah untuk menyebut tarian itu. Tarian yang biasa disajikan pada upacara adat itu. Pada Festival Budaya Minahasa yang digagas Ratulangi ini, muncul pertama kali satu istilah, ‘Maengket’.

“Sebelumnya ada banyak istilah tentang tarian maengket. Ketika istilah maengket diangkat, dia menjadi payung dari semua istilah itu. Dari semua kegiatan yang ada kaitan dengan sifatnya pertanian atau sifatnya sosial. Di sini pertama kali istilah maengket dikenal,” tandas Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulut ini.

Sebelumnya, orang Minahasa di berbagai wilayah masih menggunakan istilah mareindeng, mawinson, masambo, mariey, matetambaken dan lain-lain.

“Paling tidak ada sekitar 12 istilah yang biasa digunakan masyarakat Minahasa ketika itu kemudian disatukan untuk menjadi tontonan. Tarian-tarian dalam upacara adat yang kemudian dijadikan tontonan itu disebut maengket,” kata Parengkuan.

Peristiwa historis ini mengawali pentas tarian Maengket yang kini lazim ditampilkan dengan tiga babak, Maowey Kamberu, Marambak dan Lalayaan.

“Jadi, ada banyak tarian dengan istilah berbeda kemudian disatukan dan diangkat mana yang bisa dijadikan tontonan. Tarian yang kemudian dijadikan tontonan itu yang kemudian disebut maengket. Ide Sam Ratulangi ini dikaitkan dengan sebuah kegiatan sosial sehingga dari situ juga muncul tarian maengket tiga babak,” paparnya.

Sam Ratulangi

Budayawan Minahasa yang mengabdikan sebagian besar hidupnya sebagai dosen di Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado ini menegaskan, pemikir pertama yang ‘meracik’ Maengket sebagai seni pertunjukan adalah Sam Ratulangi.

“Cerita itu memang sampai sekarang belum pernah diangkat. Dulu saya pernah singgung ketika tahun 2006 Pak Benny Mamoto mengundang saya untuk menjadi pembicara dalam seminar maengket nasional di Jakarta. Waktu itu seingat saya, saya sempat membuat makalah,” beber Parengkuan.

“Dari festival itulah untuk pertama kali tarian maengket muncul di panggung dan dipertontonkan sebagai sebuah tontonan. Waktu itu, tiga penggagas acara tersebut tampil menjadi pembicara namun yang paling banyak bicara tentang kebudayaan adalah Sam Ratulangi,” sambungnya.

Inti dari apa yang dipaparkan Sam Ratulangi dalam acara itu, dia punya obsesi untuk membangkitkan kebudayaan Minahasa. “Itu ia sebut dan dimuat dalam surat kabar ‘Fikiran’ yang terbit tahun 1933. Di situ ia ungkapkan, ternyata kebudayaan Minahasa bisa berkembang dan bisa menyesuaikan diri dengan berbagai tantangan zaman,” terangnya.

“Kalau tidak salah ia sebutkan, kebudayaan Minahasa itu ibarat taman bunga. Kita bisa mengubah, memperindah dan menambah koleksi taman bunga itu seindah mungkin tapi kita tidak mungkin mengubah intinya, yaitu nilai-nilai keminahasaan karena nilai itu sudah tertanam dalam jiwa dan darah kita. Itu ia tuliskan karena terkait dengan pengalaman dia mengangkat mangeket,” ulas Parengkuan.

Waktu pertama kali tarian Maengket dipertontonkan, tumpukan-tumpukan penampil masih mengikuti apa yang disarankan Sam Ratulangi.

“Kata Ratulangi, harus ingat ya, musti ada tu pete padi, tu nae rumah baru. Dia kan waktu itu pidato budaya. Ia katakan, torang orang Minahasa adalah petani. Patani tulen torang. Jadi torang harus punya tarian tentang itu. Torang orang Minahasa jauh sebelum diajarkan orang-orang barat, sudah punya kemampuan untuk membuat rumah dan itu selalu berkaitan dengan adat. Anggaplah itu bagian kedua dari torang pe tarian. Bagian ketiga, tugas utama torang adalah melanjutkan kehadiran Minahasa sampai kapanpun melalui anak-cucu kita sendiri. Itu adalah babak ketiga. Seperti itu pidato kebudayaan Sam Ratulangi ketika itu,” tutur Parengkuan.

Ia mengungkapkan, awalnya orang membuat tarian Maengket menyesuaikan dengan arahan Sam Ratulangi dalam pidatonya ketika itu. “Jadi yang penting ada kaitan dengan tiga hal ini, silahkan naik panggung. Ratulangi sarankan, tarian yang akan dipentaskan yang penting ada kaitan dengan tiga hal ini. Sejak saat itu orang-orang mulai berkreasi menciptakan tarian Maengket dengan tiga babak,” tandasnya.

Syair-syair yang dinyanyikan dalam Maengket awal adalah syair-syair yang sudah ada. Syair dan lagu ‘tua’ yang biasa diekspresikan dalam upacara-upacara adat. “Mereka tinggal menyesuaikan dengan apa yang disarankan Ratulangi, harus bikin begini, harus begitu ya,” katanya.

Parengkuan mengakui, hal tersebut adalah bagian dari kearifan lokal masyarakat Minahasa yang mampu menerjemahkan kensep pikiran Sam Ratulangi.

Festival Maengket pertama kali itu diyakini Parengkuan digelar di Tondano. “Diperkirakan dilaksanakan di lapangan Sam Ratulangi Tondano sekarang. Tidak ada tempat lain ketika itu di Tondano yang representatif untuk menggelar hajatan seperti ini,” kunci Parengkuan. (*)