Sengketa Pengukuran Tanah, Hukum Tua T1 Versus Warga T2

626
Nita Lumapow dan Hesky Tamba
Nita Lumapow dan Hesky Tamba

MANGUNINEWS.COM, Motoling Barat – Warga Desa Tondei Dua (T2) Dusun VI, keluhkan kinerja Hukum Tua Desa Tondei Satu (T1), Nita Lumapow. Penyebabnya, pengukuran tanah perkebunan (TP) yang diajukan warga T2, Hesky Tamba tertunda. Atas perihal tersebut, Tamba pun mendatangi kediaman Sekretaris Badan Permusyawaratan Desa (BPD) T1, Ricky Manese S.H., Minggu (21/6). Diketahui, ibu kandungnya Tamba, Yultje Marentek adalah kakak kandung dari suami Hukum Tua Lumapow.

Menurut penuturan Tamba, uang sebesar 700 ribu rupiah sudah diserahkan pada Senin (10/2). Saat itu juga, Lumapow meminta Tamba agar menunggu satu pekan untuk dilaksanakannya pengukuran TP. Tepat hari Senin (17/2), Tamba standby di perkebunan, namun tidak ada tanda-tanda pelaksanaan pengukuran.

“Mulai tanggal 10 Februari toh da kase tu doi, Kuntua da minta 700 ribu. Kong Kuntua bilang tunggu akang jo satu minggu. Nanti hari Senin minggu depan kong ba ukur, mo kase baku bawa deng om Refly pe kobong. Dia pe kaka,” ujar Tamba.

Tanggal 18 dan 19 Februari, Tamba mengunjungi kediaman Hukum Tua T1 untuk mempertanyakan hal tersebut. Namun Lumapow tak berada di kediamannya. Pun lantaran Tamba sibuk bekerja, barulah tanggal 30 Maret Ia kembali menyambangi kediaman Lumapow. Hukum Tua T1 pula menyuarakan bahwa Corona Virus Disease 2019 (Covid-19)-lah yang menghalangi pengukuran TP.  Kata Tamba, hari Jumat (24/4), Covid-19 tak menghalangi pengukuran tanah milik saudara kandung Lumapow. Pengukuran tanah itu membangkitkan emosi Tamba. Ia kembali mendatangi rumah Hukum Tua, Minggu (21/6).

“Tanggal 24 April, hari Jumat, ada pengukuran tanah pa dia pe kaka ade pe kobong. Tadi, kita bagini pa Kuntua, Kuntua torang ini korban penipuan, kyapa blum sese pulang dang tu doi? Oh so kirim kwa lagi tu berkas. Iyo, mar nda ada pengukuran, nda ada tanggungjawab. Kuntua bilang tuhari nanti tanggal 17, serta tanggal 17 nda datang Kuntua pe kaka, nda jadi tu pengukuran,” kata Tamba.

Lanjutnya kesal, pada tanggal 24 April sampai 25 April ada pengukuran tanah nya kakak beradik dari Hukum Tua T1. “Jadi kalu kuntua pe kaka ade nda ada Corona dang? Kalu torang Corona. Dia bilang, itu kwa torang pe pengaturan,” aku Tamba.

Sesuai keterangan Tamba, saat Ia menyuarakan bahwa mereka adalah korban penipuan, Lumapow malah mengancam untuk melaporkan hal ini. Namun Tamba hanya menantang balik agar Hukum Tua melaporkannya supaya terbukti siapa yang benar.

“Kita to katu da bilang, torang ini korban penipuan, masa torang orang susah kong Kuntua mo koropsi akang doi bagini. Kong dia bilang, oh kita mo lapor ngana, kita mo telpon Polisi. Yah silakan, lebe bagus torang urus supaya mo cari titik benar. Terserah jo pa Kuntua kalu Kuntua jo tu moba lapor, karna torang kasiang korban penipuan,” tutup Tamba.

Saat meminta klarifikasi dari Hukum Tua T1 di rumahnya Minggu (21/6), Lumapow angkat bicara. Ia meluruskan keluhan salah satu warga Desa T2 Dusun VI itu. Lumapow menuturkan jika ada kekeliruan dengan penjelasan Tamba.

Menurut dia, jika ibunya Tamba sudah menemuinya dan memohon agar pengukuran tanah tersebut menggunakan nama orangtuanya. Namun yang Tamba inginkan harus memakai namanya. Bahkan menurut penuturan Lumapow, Tamba berteriak menyebut, Hukum Tua telah korupsi.

“Bagini, memang dia pe mama da kamari, dia pe mama da bermohon, mo ba ukur kase dia pe mama pe nama, dia pe mau musti dia.

Kong waktu mo bilang pengukuran, kan nda mungkin dia pe ba bilang kamari somo iko ukur, sementara kan karu tu pengukur tanah mo tunggu dorang pe waktu,” ucap Lumapow kala ditemui wartawan.

Lanjutnya, setibanya di kediaman Lumapow, Tamba berteriak, Hukum Tua sudah korupsi untuk mengawinkan anaknya. “Cuma deng tu 700.000 kita mo pake kase kaweng anak? Nda to woon wajar kita mo baku ambe deng dia. Kita bilang bagini, sedangkan ngana, kalu mo minta doi pa qt, biar susah kita mo cari akang. Kita pe anak pa ngana,” sebutnya.

Lumapow menegaskan jika dia telah memberikan penjelasan kepada Yultje Merentek, ibu kandung Tamba tentang pengukuran TP tersebut. “Kita so arahkan pa dia pe mama. Sebenarnya  musti ukur desa dulu baru somo pigi di sertifikat. Kong kita bagini, kalu ukur sertifikat biarjo kita pe urusan. Mar kita so bilang pa om Lody pigi jo bawa sana tu doi,” tutup Lumopow.  (ferlandi wongkar)