Sudah Berjuang Keras, Tenaga Medis Masih ‘Dipukul’ Publik

MANGUNINEWS.COM, Manado – Kerja keras untuk untuk menangani pasien virus corona (Covid-19), giat dilakukan para tenaga medis. Di setiap rumah sakit mereka berjuang untuk tetap menjadi bagian penting dari upaya memutus rantai penyebaran virus ini.

Di garda terdepan, para perawat bertarung melawan pandemi ini. Mereka berani menanggung resiko yang bisa saja menimpa kapan saja dalam melaksanakan tugasnya. Sering kali, mereka hampir tidak punya waktu untuk beristirahat walau sebentar.

Tidak terbayangkan, tugas yang mereka emban sangat berat. Namun, tidak semua orang menyadari besarnya pengorbanan tersebut. Ironisnya, stigma hingga tindakan tak menyenangkan masih saja mereka alami.

Fakta itu ikut dikuak salah satu perawat RS Pancaran Kasih, Charla Sembung. Warga Tompaso Baru, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) ini mengurai keluh.

“Orang-orang perumahan deng kita, ba bilang, torang dapa insentif ja batangani pasien Covid-19. Kita bilang, nda kasiang. Karena torang RS swasta, bukan pemerintah yang ja dapa insentif. Kalo pun ada, torang bersyukur. Torang nda baharap di situ. Torang cuma ba harap pasien boleh bae deng torang sehat-sehat, kuat-kuat trus,” tuturnya.

Ada luka yang dalam ia rasakan. Di titik tertentu, kadang meletup hasrat dalam pikiran untuk mundur dalam tugasnya.

“Sedih, kecewa, marah itu pasti. Kami juga masih manusia biasa. Samua suka mo mundur, mo social distancing jo supaya tetap kumpul bahagia deng keluarga di rumah, sama deng orang-orang laeng,” ungkap Sembung.

“Torang pikir, doi boleh mo cari mar nyawa nda bole mo cari ulang. Mar kalo samua somo bapikir bagitu, somo brenti kerja. Kong sapa yang mo layani pa dorang samua tu kepala-kepala batu? Nda jaba dengar pa pemerintah. Kuat ba sein-sein bantuan di sosmed (media sosial, red) mar isi kuota ada doi,” sesalnya.

Ia mengakui, dalam tugas banyak kali ‘tersandera’ dengan pakaian yang digunakan. Biasanya mereka menggunakan alat pelindung diri (APD) selama 6 jam. Dalam sehari, ada 3 sampai 4 kali mereka membersihkan tubuh.

“Masalahnya torang langsung baku mangada deng virus, tambah lei APD torang ja pake selama 6 jam. Baju, celana basah samua. Dalam satu hari torang mandi 3 sampe 4 kali,” bebernya.

Ia mengaku, belakangan sering merasa sedih ketika melihat rekan-rekannya ada yang tiba-tiba jatuh sakit saat sedang bertugas.

“Sedih skali ketika lia ada tamang yang tiba-tiba so pingsan sampe tatidor di lantai,” ucapnya. (Denny Pongayow)