Sukses ‘Merdeka Belajar’ Tergantung Pengawasan dan Mindset Guru

175
Ferly Rau

MANGUNINEWS.COM, Tomohon – Dampak program ‘Merdeka Belajar’ yang ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim masih ‘fifty-fifty’. Penilaian itu dilontarkan Kepala Sekolah SMA Kristen 1 Tomohon, Ferly J. W. Rau, S.Pd.

Menurutnya, kesuksesan program pokok kebijakan pendidikan nasional itu tergantung pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud sendiri. “Kalau tidak dipantau akan bermasalah. Contoh, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) satu lembar. Sebelum muncul ‘Merdeka Belajar’ RPP satu lembar, saya sudah mengingat-ingatkan ke guru-guru, kalian bikin RPP banyak lembar tapi tidak mampu dilaksanakan sesuai dengan tahapan-tahapan RPP. Jadi, intinya bagaimana mau persingkat RPP supaya semua guru tau apa yang akan dia buat dalam kelas,” jelasnya.

“Sekarang muncul ‘Merdeka Belajar’, RPP satu lembar yang katanya harus ada minimal tiga komponen. Tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan asesmen. Intinya sebenarnya yang penting guru mengerti esensinya. Mau satu halaman, dua halaman, berapa halaman, esensi dari RPP yang harus dimengerti oleh guru-guru,” sambung Rau.

Ditegaskan, selain kontrol pemerintah, mindset guru akan menjadi salah satu kunci keberhasilan ‘Merdeka Belajar’.

“RPP kini disederhanakan. Yang bahaya kalau penyederhanaan RPP itu menjadikan guru lebih tidak peduli dengan hasil belajar. Jadi mindset guru itu perlu, kemudian kontrol pemerintah juga harus jalan,” tandas Rau.

“Kalau saya di sini, saya katakan RPP satu halaman kedengarannya mudah tetapi implementasinya sangat sukar. Karena kita mau menyederhanakan apa yang dipikirkan guru ke dalam satu halaman, dalam rangka supaya peserta didik itu di masa yang akan datang berguna. Kan intinya begitu. Mau satu halaman, berapa halaman RPP, intinya itu,” tegasnya.

Rau menjelaskan, fungsi guru bukan hanya sekedar mentransfer pengetahuan tapi bagaimana mampu mengajarkan etika bagi para siswa. “Kalau jadi guru hanya mau transfer pengetahuan, google lebih pintar. Tapi google tidak mengajarkan tata krama, etika. Itu semua dari guru. Makanya saya selalu mengingatkan guru-guru dari dulu, kalau hanya sekedar mau menguasai pengetahuan untuk misalkan bidang kimia, hanya membaca saja dan ikut bimbel, kita bisa dapat. Tapi bagaimana melalui belajar kimia dilatih karakter yang bagus, itu harus lewat proses,” terangnya.

Program ‘Merdeka Belajar’ tidak bisa hanya dilepas begitu saja. Karena ini terkait dengan mindset guru kini. “Lebih ke merobah mindset guru dulu sebelum ke tugas pokok itu. Merencanakan, melaksanakan dan menilai. Walau ada RPP, kalau guru memang tidak ada visi mewujudkan pendidikan, percuma. Tapi seperti pemerintah katakan, tak ada RPP pun tapi guru punya komitmen untuk membuat anak Indonesia di tahun 2045 menjadi generasi emas berhasil, itu yang terpenting,” pungkasnya. (tim man)