Sulit Belajar Daring, Massie Berharap Pemkab Minsel Perhatikan Jaringan di Desa Wawona

MANGUNINES.COM, Tatapaan – Demi mengantisipasi penyebaran Covid-19 yang semakin merajalela, tak jarang siswa dan mahasiswa mengikuti pembelajaran secara online. Para penuntut ilmu di Desa Wawona, Kecamatan Tatapaan pun kena imbasnya.

Hampir setiap hari mereka menyambangi Bukit Pemandangan Alam (PA), yang dikenal dengan Puncak Sweety, untuk mengikuti proses belajar daring. Sulitnya jaringan di perkampungan ini jadi alasan. Bekal makanan pun biasa ikut serta menemani mereka.

Diketahui, jarak PA sekira 1 kilo meter dari perkampungan. Para siswa maupun mahasiswa harus rela melangkahkan kaki untuk bisa menggapai Puncak Sweety.

Saat diwawancarai, Sabtu (19/9), Gabriella Massie, salah satu mahasiswa di desa Wawona angkat suara. Ia mewakili siswa dan mahasiswa meminta pemerintah memperhatikan kondisi desa mereka.

“Sebagai mahasiswa dan mewakili para siswa yang ada di desa Wawona, kami meminta agar pemerintah boleh memperhatikan situasi dan kondisi di desa kami,” kata perempuan cantik ini.

Gabriella Massie

Massie membenarkan jika jarak desa Wawona menuju tempat belajar online cukup jauh. Apalagi bagi pejalan kaki.

“Di desa kami tidak ada jaringan internet dan harus berjalan kaki yang cukup jauh demi mencari jaringan untuk kami belajar,” ungkapnya.

Ia berharap agar pemerintah kabupaten (Pemkab) Minahasa Selatan (Minsel) bijaksana untuk memperhatikan penderitaan yang dialami oleh siswa dan mahasiswa desa Wawona selama ini.

“Berharap agar pemerintah kabupaten ada kebijakan untuk memperhatikan situasi dan kondisi yang ada di desa, seperti memperhatikan jaringan internet,” harap Massie. (Ferlandi Wongkar)