Tangkal Perpecahan, Amalia Serukan Persatuan Pemuda Sulut

299

MANGUNINEWS.COM, Kotabunan – Kisruh yang terjadi Desa Tumaluntung, Minahasa Utara (Minut), memantik reaksi sejumlah tokoh di Sulawesi Utara (Sulut). Sikap kritis pun diekspresikan Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Amalia Ramadhan Landjar.

Eksistensi hakikih kaum muda disentuh. Amalia menegaskan, pemuda sebagai barisan terdepan di masyarakat, harus mengedepankan persatuan dan kesatuan. Jangan sampai sikap dan tindakan pemuda, menyentuh sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA).

Aksi yang terjadi di Tumaluntung dinilai telah mencoreng nilai-nilai toleransi yang telah lama diciptakan dan dirawat masyarakat Sulut. “Kita harus bisa lebih menahan diri, tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang tidak jelas. Jadilah pemuda yang kritis, tetaplah menjadi masyarakat Sulut yang kokoh menjaga persatuan dan toleransi. Agar peristiwa seperti di Tumaluntung Minut ini tidak akan pernah terjadi lagi,” ungkap Amalia.

Terkait fakta kericuhan di wilayah Minut, tokoh milenial dari Timur Totabuan ini meminta pemuda di Bumi Klabat, menjadi corong komunikasi dalam menyerukan persatuan dan silaturrahmi, agar warga desa bisa kembali rukun dan hidup berdampingan secara harmonis.

“Saya berdoa kepada Tuhan, dan meminta seluruh pemuda di Tumaluntung, dan Minut bahkan Sulut secara umum, agar tercipta kembali persatuan dan kesatuan. Masyarakat walau berbeda keyakinan, berbeda pendapat, berbeda pilihan politik, namun tetap hidup berdampingan serta menjaga keharmonisan,” ucapnya.

Nada apresiasi pun diberikan Amalia kepada pemerintah daerah, aparat keamanan dari TNI/Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda yang sudah mengadakan pertemuan serta meredakan kembali ketegangan di masyarakat.

Di sisi lain, Amalia tetap mengingatkan aparat keamanan serta pemerintah daerah di seluruh wilayah Sulut, agar tetap menjaga segala kemungkinan yang bisa terjadi pasca kejadian di Minut ini. Jangan sampai ada oknum-oknum provokator dan tidak bertanggung jawab, memanfaatkan momen ini untuk memecah belah kedamaian di Sulut.

“Kita tidak akan pernah tahu, jika ada oknum atau kelompok yang ingin menggunakan momentum ini untuk merusak tatanan kehidupan dan kedamaian masyarakat di Sulut. Waspada dengan segala kemungkinan, karena masyarakat kita begitu majemuk. Rawan untuk dimanfaatkan dan menciptakan teror,” tandasnya.

“Lebih aktif dalam menginformasikan semua hal yang janggal, terutama oleh orang asing yang kita tidak kenali. Semoga daerah kita Nyiur Melambai ini masih tetap dalam perlindungan Tuhan, dan senantiasa damai sejahtera,” tutup Amalia. (Gazali Ligawa)