‘Tersandera’ di Kendari, Mirwan Rindu Anak-Istri di Papua dan Tanah Lahir Tidore

Mirwan I. Margaito

MANGUNINEWS.COM, Kendari – Suasana menjalani Ramadan, di 1441 Hijria ini tidak biasa. Jelas ada perbedaan jika dibandingkan dengan masa bulan suci sebelumnya. Kalau Ramadan yang dulu penuh dengan kebahagiaan karena bisa pulang kampung, bertemu dengan keluarga di kampung orang tua dan saudara-saudara.

Hari ini berbeda. Mirwan I. Margaito, berkesah soal itu. Bulan penuh berkah di tengah pandemi Covid-19.

Katanya, tahun ini sangat susah sekali pulang kampung. Wabah virus corona membuat pemerintah melakukan banyak pembatasan. Jalur penerbangan, transportasi laut, transportasi darat, tidak ada sama sekali. Nanti dibuka bulan Juni tanggal 3, baru bisa pulang kampung.

Sedangkan kerinduan sebagai anak perantau sudah tahu, otomatis kerinduan ini disimpan agar bulan Ramadan kami bisa pulang bertatap muka dengan keluarga,” kata Mirwan via telepon seluler.

“Ini mungkin cobaan dari Tuhan juga, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait dengan penyebaran Covid-19 ini,” ujarnya.

Menurut Mirwan, di setiap Ramadan kemungkinan besar para perantau di luar daerah banyak pulang kampung. Kerinduan itu tak tertahankan pria kelahiran Tidore, Maluku Utara ini. Ia rindu kampung halaman, ia juga rindu anak dan istrinya yang berada di Papua. Sayang, ia harus tertahan di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, tempat ia mengadu nasib.

“Saya bekerja di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Sekarang sangat susah sekali  bertemu dengan istri dan anak saya yang ada di Papua. Padahal, rencananya kami pulang ke Tidore Ramadan ini untuk bertemu dengan keluarga. Tapi, mau pulang takutnya penyebaran virus corona semakin besar. Jadi sebagai anak rantau, terima apa adanya, bersabar sementara,” tutur Mirwan.

Walau demikian, sebagai warga negara Indonesia, Mirwan memberikan apresiasi kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Terutama pemerintah Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara.

“Pemerintah pusat membatalkan penerbangan demi memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Pemerintah Maluku Utara mengambil kebijakan untuk menutup jalur laut, udara dan darat. Ini sangat bagus. Karena hari puncak Idul Fitri nanti banyak orang melakukan silaturahim,” kata Mirwan.

Diakui, di tengah pendemi Covid-19 ini, sebagai anak rantau ia tetap konsisten menjalani ibadah puasa dengan semangat yang tinggi. Sambil membawa segenap kerinduan di dalam doa. (Yusri Yunus Marsaoly)