Timsus Maleo Bongkar Sindikat Penjual Obat Terlarang

MANGUNINEWS.COM, Manado – Tim Khusus (Timsus) Maleo Polda Sulawesi Utara (Sulut), berhasil menciduk 3 orang terduga pelaku pengedaran obat keras tanpa izin. Sejumlah barang bukti ikut diamankan pentugas. Hal ini diungkapkan Katimsus Maleo Polda Sulut, Kompol Prevly Tampanguma.

“Minggu (17/5), pukul 01.00 Wita, Tim Maleo di bawah pimpinan Ipda Fadhly, melakukan penangkapan terhadap 3 orang yang diduga sering mengedarkan obat keras tanpa izin jenis trihexyphenidyl 2 mg dan atarax alprazolam 1 mg di Kelurahan Wonasa Tanjung, Kecamatan Singkil, Kota Manado,” kata Tampanguma, Senin (18/5).

Menurutnya, para terduga pelaku ditangkap berdasarkan Surat Perintah Nomor: Sprin/289/ III/ OPS.1./2020 dan laporan masyarakat tentang maraknya penjualan obat keras tanpa izin di Kecamatan Singkil.

Dari informasi petugas, terduga pelaku diketahui RH alias Ady (28) dan HD alias Enda (21), warga  Kelurahan Ternate Baru, Kecamatan Singkil, serta MP Alias Amat (20), warga Kelurahan Ternate Tanjung, Kecamatan Singkil, Kota Manado.

“Dari para terduga pelaku diamankan barang bukti 833 butir obat keras merek trihexyphenidyl 2 mg, 50 butir obat keras merek atarax alprazolam 1 mg, 3 buah HP yang sering digunakan untuk kegiatan transaksi, dan sebilah sajam jenis besi putih,” ungkap Tampanguma.

Katimsus menjelaskan, berdasarkan laporan masyarakat pada Sabtu (16/5), pukul 13.30 Wita, soal maraknya peredaran obat keras yang berada di Kecamatan Singkil, Timsus Maleo langsung melakukan penyelidikan.

“Selanjutnya Timsus Maleo memperoleh informasi bahwa yang sering mengedarkan obat keras tersebut yakni laki-laki RH. Tim yang dimpimpin Ipda Fadhly langsung melakukan penangkapan terhadap RH. Pada saat penangkapan, RH sedang bersama dua orang rekannya yang lain, yakni HD dan MP. Saat itu, anggota juga menemukan sajam jenis besi putih pada HD,” jelas Tampanguma.

Dari hasil penyelidikan petugas, terungkap jika benar RH menjadi pengedar obat keras jenis trihexyphenidyl 2 mg dan atarax alprazolam 1 mg. RH menjual barang tersebut 1 paket isi 10 butir dengan harga Rp. 60.000. Dari penjualan itu ia memperoleh keuntungan setiap paketnya Rp. 30.000.

Sementara HD berperan sebagai kurir obat keras yang diambil dari FH dan MP berperan sebagai pemilik kendaraan yang digunakan untuk operasional pengambilan obat.

“Modus operandinya, para konsumen memesan obat keras kepada RH melalui chat Whatsapp dan ada juga datang langsung kepada RH. Beberapa pemesan juga melalui kurir HD. Waktu transaksi kebanyakan sore hari, di dalam rumah di Kelurahan Karang Ria, dengan cara penyerahan uang secara langsung. Kemudian untuk barang diletakkan dalam rumah, ditutup jaket. Pemesan mengambil sendiri barang tersebut sesuai dengan tempat yang disepakati,” urai Tampanguma.

Katimsus mengungkapkan, saat ini petugas kepolisian masih melakukan pengembangan terhadap kasus ini. (Denny Pongayow)