Tortuga Coffee, Kedai Kopi Bernuansa ‘Pirates’

99

Penulis: Juan Ray Ratu

MANGUNINEWS.COM, Manado – Terlepas dari segala hiruk-pikuknya Manado sebagai kota niaga dan kota bisnis di jazirah utara ulau Sulawesi, Manado juga dikenal sebagai kota tepi laut yang memiliki horizon yang indah di sepanjang bibir pantainya. Kota tepian pantai ini menjelma sebagai kota industri yang memacu usaha kreatif anak mudanya dalam survive untuk mengeksiskan diri.

Ini pulalah yang dilakukan oleh Dhika Paparang dan Rachel Solang, dua sejoli yang merintis kedai kopi. Berlokasi di Kelurahan Kleak, Kecamatan Malalayang, Kota Manado. Tempatnya tepat berada di dekat pintu masuk utara SMA Negeri 9 Binsus Manado. Diberi nama Tortuga Coffee.

Senin malam di penghujung Bulan Agustus (31/08), waktu saya bisa mampirkan diri dalam merekam kesan untuk kedai kopi Tortuga Coffee, sedari diajak oleh kawan-kawan mahasiswa teknik arsitektur. Kami pun disambut dengan senyuman tipis sang empunya kedai, Dhika, yang juga kawan lama saya dalam gerakan kreatif eksistensi budaya Minahasa, terlihat juga bersama kekasihnya, Rachel dalam menjalankan roda usaha ini.

Dengan sadar akan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), kami bercengkerama dan bersenda gurau, sebelum Dhika menawarkan menu andalan Tortuga Coffee. Kopi susu menjadi pilihan saya, dengan racikan ‘strong’. Datangnya pesanan, Dhika pun bertahan, duduk dan menemani kami untuk bercerita, tak ketinggalan ditemani dengan alunan musik blues. Di saat itulah saya mengulik mengenai terjunnya ia dalam industri kedai kopi.

Berawal pemilihan nama, Tortuga, terinspirasi dari bahasa Spanyol yang adalah kura-kura. Beriringan dengannya seorang penyuka kura-kura.

“Nama kafe ini, kita ambe dari bahasa Spanyol, kura-kura, karena dari dulu kita suka kura-kura,” ungkap pria yang pernah menimbah ilmu arsitektur di Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) ini.

Nama Tortuga juga menjadi legenda di lautan, di kala menjadi markas terbesar oleh bajak laut Karibia. Ia adalah nama pulau yang kini masuk dalam wilayah Negara Haiti. Pada tahun 1630, Tortuga menjadi hak kekuasaan dari Spanyol dan Prancis yang mengawali kawasan bebas hukum terhadap bajak laut di sana. Sampai disepakatinya perjanjian Ratisbon oleh bangsa-bangsa Eropa yang mengakhiri aktivitas pembajakan laut di Tortuga pada 1684. Dalam serial legendaris yang bertemakan bajak laut, Pirates of the Carribean, difiksikan Tortuga sebagai kota bajak laut dan surga bagi pelaku kriminal.

Terinspirasi dari kisah historis dan fiksonis tersebut, menjadi tarikan filosofis tersendiri bagi Dhika dalam memaknainya. “Tortuga leh dalam sejarah, juga diceritakan di film Pirates of the Carribean, sebagai kota bebas hukum, dengan nuansa dari kafe ini semoga, torang semua bebas, deng nda canggung, saling terbuka deng nda ada gap gara-gara status sosial, ras, agama dan sebagainya, karena torang sama-sama penikmat kopi,” kata Dhika sembari tersenyum tipis.

“Tortuga, kalo torang orang Manado bilang tuturuga, dia hewan yang punya waktu hidup yang panjang, dan selalu nda pernah lupa rumah, ya itu lagi filosofi yang da ambe for ini kafe,” damba Dhika menegaskan Tortuga Coffee memiliki umur yang panjang dan selalu menjadi rumah bersama bagi penikmat kopi racikan dirinya.

Dalam kedai ini pun, dibangun nuansa Tortuga Coffee dengan tema ala-ala bajak laut, dindingnya digambar karakter kru bajak laut ‘Mugiwara’ atau Topi Jerami, yang terinspirasi dari ‘anime’ terlaris di dunia asal Jepang, One Piece, menjadi magnet bisnis mengait anak SMA penyuka ‘anime’. Aku Dhika, dia sendiri yang menggaris dan menggambari dinding kafe bernuansakan bajak laut ‘Mugiwara’ tersebut, untuk pengecatan dibantu oleh teman-teman kampusnya.

Di Tortuga Coffee, selain juga bernuansakan bajak laut, ditata pula dengan tanaman kaktus yang menambah suasana elegan nan naturistik.

Dhika dan Rachel tidak sendiri menjalankan usahanya, mereka dibantu oleh David Singal, junior Dhika di Kampus yang sementara mengumpulkan uang untuk selesaikan studi. Meski Dhika sendiri mengakui masa pandemi ini menjadi tantangan baginya, anak kuliah dan anak SMA sebagai pangsa yang disasar Tortuga Coffee, masih lesu, karena aktivitas perkuliahan dan persekolahan yang belum ada aktivitas di area kedai yang dibuka pada Senin (24/8) lalu.

Walau demikian, layar telah terkepal surut untuk berlabuh, kapal Tortuga Coffee mantap berlayar di lautan pandemi yang ganas dan penuh misteri ini. (*)