Webminar Perang Tondano KKK dan GPPMP, Peserta Dorong Langkah Konkrit Selanjutnya

Para intelektual beragam kompetensi yang berdarah Sulawesi Utara (Sulut), dari berbagai tempat di dunia, menyatu dalam diskusi bertajuk “Perang Tondano: What Next ?”, Kamis (21/5). Kegiatan webminar yang digelar via Zoom ini digagas Dewan Pengurus Pusat (DPP) Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) dan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP).

Acara dipandu Donald Pokatong, M.Sc., Ph.D., sementara diskusi yang berlangsung hampir 4 jam ini dimoderatori DR. Audy Wuisang M.Si,. Tampil sebagai narasumber, Drs. Fendy Parengkuan, M.A., (Sejarawan Minahasa), Dr. Benni E. Matindas (Budayawan Minahasa), Jenri Sualang, S.Pd, MAP., (Kadis Kebudayaan Provinsi Sulut) dan Rikson Karundeng serta Stevy Rengkuan sebagai pembahas.

“Terima kasih Waketum 3 DPP KKK, Pdt. DR. Audy Wuisang, panitia Marsma TNI Donald Kasenda dan Donald Pokatong. Terima kasih atas gagasan ini dan Ketua DPP GPPMP yang mendukung. Ini kisah perjuangan heroik dari tou Minahasa melawan penjajah Belanda. Karena itu gagasan untuk menyusun bahan ajaran di sekolah-sekolah, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, khususnya di Sulawesi Utara dan lebih khusus lagi di Minahasa, tentang Perang Tondano ini, saya kira gagasan yang sangat baik,” kata Ketua Umum (Ketum) DPP KKK Dr. Ronny F. Sompie, S.H., M.H., saat membuka kegiatan tersebut.

“Kita bisa menunjukkan, perang ini mendahului perang-perang di daerah lain di wilayah nusantara. Oleh karena itu, saya sangat menyambut baik acara ini dan saya juga memang ingin belajar sejarah ini. Sebab sejak SD sampai lulus SMA, saya tidak pernah mendengar kisah Perang Tondano ini. Justru nanti di perantauan baru dengar,” ujarnya.

Menyambung Sompie, Ketua Umum DPP GPPMP, Jeffrey M. Rawis, SE., M.M., dalam sambutannya mengaku bangga bahwa DPP KKK dan DPP GPPMP berkolaborasi dalam suatu iven yang terkait dengan peristiwa 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional.

“Artinya, benang merahnya ada. Dimana kita diajak untuk mengingat lagi betapa dahsyatnya perjuangan para pendahulu kita, dari masa ke masa, dari era Perang Tondano berkulminasi pada 1908 dan bagi kita di Sulut justru klimaksnya ada pada tanggal 14 Februari 1946. Itulah gerakan Merah Putih dari masa ke masa. Sayangnya, kita di Sulut kurang sekali mendapatkan kesempatan untuk mempublikasikan, mengekspos tapak-tapak perjuangan kita bagi bangsa dan negara tercinta Republik Indonesia,” tutur Rawis.

Ia berharap dari diskusi ini akan mempertegas, tou Minahasa tidak lagi hanya dianggap pendatang, pembonceng di negeri republik merah putih ini. “Bukti-bukti sejarah ini musti kita angkat dan ekspos besar-besaran, dalam segala media yang kita punya. Saya rasa tugas kita di DPP KKK dan DPP DPP GPPMP untuk kembali mengaktifkan divis penerbitan, divisi percetakan buku, pembuatan film, memproduksi bersama baik buku maupun film perjuangan dari masa ke masa ini,” tandasnya.

Diskusi tersebut berlangsung hangat. Selain pemateri dan pembahas, para peserta juga aktif memberikan banyak data, informasi dan catatan kritis terkait sejarah Perang Tondano. Ada yang menuturkan secara langsung, ada juga yang menuangkannya dalam kolom chat. Sejumlah rekomendasi konkrit untuk segera ditindaklanjuti juga ikut tersaji.

Di akhir acara, Ketua Panitia Pengarah Paskah dan HUT KKK ke-47, yang juga Waketum 1 DPP KKK, Brigjen. Pol. DR. Tommy Winston Watuliu mengungkapkan jika semua yang hadir dalam diskusi itu mendapatkan berkah yang banyak.

“Sudah banyak hal yang kami bicarakan dengan penggagas diskusi ini, Pdt. DR Audy Wuisang, untuk mengkonkritkan kecintaan kita kepada suku bangsa Minahasa yang merupakan bagian dari Republik Indonesia saat ini, bagaimana agar kita jadi berkat bagi umat manusia. Para Tonaas, para pembicara yang luar biasa, kami belajar banyak bagaimana memanfaatkan sejarah, melihat kegunaan sejarah itu sendiri yang tentunya dapat menjadi pelajaran, yang bisa menjadi referensi positif untuk menjaga ataupun mengembalikan nilai-nilai karakter tou Minahasa pada rel yang sebenarnya,” ungkap Watuliu.

Ia menilai, masih ada yang perlu dikonkitkan lagi terkait sejarah Perang Tondano, untuk mendapatkan sesuatu yang betul-betul final. “Kalau ada dukungan dari pemerintah, mungkin sediakan saja anggaran nanti kita dorong Unsrat dan UNIMA untuk melakukan konfirmasi-konfirmasi lanjutan. Di sini ada beberapa narasumber, Tonaas yang berkompeten,” jelasnya.

“Ini perlu kita lanjutkan tapi yang terpenting hal-hal konkrit yang perlu kita segera tindaklanjuti. Ini sesuatu betul bagi saya sebagai putra Minahasa. Ini jangan berhenti di sini. Ini bukan sekedar kita melihat masa lalu tapi kita melihat sesuatu yang betul-betul bernilai. Terpenting, konkrit tindak lanjut dari ini semua,” kunci Watuliu. (Anugrah Pandey)